NEWS UPDATE :  

Berita

BEST PRACTICE BIMBINGAN DAN KONSELING

LAYANAN KONSELING INDIVIDU DENGAN PENDEKATAN REALITA TEKNIK WDEP UNTUK MENGURANGI KECEMASAN DALAM BELAJAR MATEMATIKA

 

WINDARTININGSIH

MTs NEGERI 2 KOTA PALANGKA RAYA

E-mail : wiwinarifpky76@gmail.com

 

ABSTRAK

Penulisan Best Practice ini bertujuan untuk: (1) Membantu konseli agar mampu mengemukakan keinginan dan kebutuhannya dalam belajar Matematika. (2) Membantu konseli agar mampu menentukan arah hidupnya sehingga semangat dalam belajar Matematika. (3) Agar konseli mampu menilai dirinya untuk menentukan keefektifitasan apa yang dilakukannya,  dan (4) Agar konseli mampu menyusun langkah-langkah perubahan tingkah lakunya untuk semangat belajar Matematika. Teknik yang digunakan dalam layanan kegiatan adalah konseling individu dengan pendekatan realita teknik WDEP (wants, direction and doing, self evaluation, planing). Layanan konseling individu pendekatan realita meyakini bahwa tindakan manusia merupakan hasil dari pilihan yang dibuatnya. Implikasi dari pilihan adalah adannya konsekuensi. Oleh karena itu, ketika individu membuat pilihan maka diharapkan dia mampu membuat pilihan yang bertanggung jawab, kemampuan untuk memilih tindakan yang akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhannya tanpa menghalangi orang lain untuk memenuhi kebutuhannya (Fall, Holden & Marquis, 2004). Keberhasilan yang diperoleh dalam pelaksanaan konseling individu mencapai 87,5 %. Konseli mampu memahami bahwa kecemasan dalam belajar Matematika berpengaruh pada hasil belajar. Konseli merasa senang bisa mengemukakan masalahnya dan menemukan solusi atas permasalahannya tersebut. Konseli akan merubah kebiasaan buruk dalam belajar dan mengurangi rasa cemas saat belajar Matematika dengan beberapa cara yang telah ditemukan, serta berusaha untuk mengontrol diri agar tidak cemas belajar matematika.

Kata Kunci: Layanan Bimbingan dan Konseling, Mengurangi kecemasan dalam belajar Matematika.

 

PENDAHULUAN

Bimbingan dan Konseling sebagai bagian integral yang tak terpisahkan dari sistem pendidikan memiliki peran penting dan strategis dalam mendukung pencapaian tujuan pendidikan secara komprehensif. Menurut Setiyanie (2020), Guru Bimbingan dan Konseling bertugas untuk membantu pencapaian tujuan pendidikan nasional peserta didik atau konseli untuk memaksimalkan perkembangannya secara optimal, sukses, mandiri, sejahtera, dan bahagia dalam kehidupannya. Lalu bagaimana peranan Guru Bimbingan dan Konseling dalam mengatasi permasalahan mengurangi rasa cemas dalam belajar Matematika. Berbeda dengan peranan guru mata pelajaran, layanan Bimbingan dan Konseling tidak memberikan materi-materi ataupun tugas-tugas yang malah memberatkan siswa. Guru Bimbingan dan Konseling memberikan layanan yang mengakomodir dalam pencapaian tugas perkembangan peserta didik, sehingga siswa memiliki kecakapan hidup dan menjadi pribadi yang mandiri. Hal ini tidak luput dengan peran guru Bimbingan dan Konseling dalam bimbingan belajar (Darwanto, 2020)

Berdasarkan uraian di atas, penulis mencoba untuk mengulas tentang strategi layanan Bimbingan dan Konseling pada siswa yang mengalami kecemasan dalam belajar Matematika dengan menggunakan konseling individu pendekatan realita teknik WDEP (wants, direction and doing, self evaluation, planing). Hal ini sejalan dengan pendapat Fall, Holden & Marqurius (2004), bahwa Layanan konseling individu pendekatan realita meyakini bahwa tindakan manusia merupakan hasil dari pilihan yang dibuatnya. Implikasi dari pilihan adalah adannya konsekuensi. Oleh karena itu, ketika individu membuat pilihan maka diharapkan dia mampu membuat pilihan yang bertanggung jawab, kemampuan untuk memilih tindakan yang akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhannya tanpa menghalangi orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Lebih tegasnya, jika dikaitkan identitas, maka individu memiliki kesehatan mental yang bagus kalau mereka mengembangkan identitas berhasil. Pribadi salah suai terjadi ketika individu tidak mampu mengarahkan perilakunya dalam memenuhi kebutuhannya berdasarkan prinsip tanggung jawab (responsibility), kenyataan (reality), dan norma (right) (Hansen, Stevic & Warner, 1982).

Prosedur pendekatan konseling realitas dilaksanakan dalam sistem WDEP (Corey, 2005, 2009; Seligman, 2006; Wubbolding, 2007). Setiap huruf dari WDEP mengacu pada kumpulan strategi: W = wants and needs (keinginan-keinginan dan kebutuhan-kebutuhan), D = direction and doing (arah dan tindakan), E = self evaluation (evaluasi diri), dan P = planning (perencanaan). Bahasan tersebut adalah uraian dari sistem WDEP yang dikembangkan Wubbolding (2007, 1995).

Adapun tujuan artikel ini adalah : (1) Membantu konseli agar mampu mengemukakan keinginan dan kebutuhannya dalam belajar Matematika. (2) Membantu konseli agar mampu menentukan arah hidupnya sehingga semangat dalam belajar Matematika. (3) Agar konseli mampu menilai dirinya untuk menentukan keefektifitasan apa yang dilakukannya,  dan (4) Agar konseli mampu menyusun langkah-langkah perubahan tingkah lakunya untuk semangat belajar Matematika. Untuk itu strategi layanan Bimbingan dan Konseling melalui konseling individu dengan pendekatan realita teknik WDEP (wants, direction and doing, self evaluation, planing) perlu untuk dilakukan, agar Konseli mampu memahami bahwa kecemasan dalam belajar Matematika berpengaruh pada hasil belajar, konseli bisa mengemukakan masalahnya dan menemukan solusi atas permasalahannya tersebut. Konseli diharapkan akan merubah kebiasaan buruk dalam belajar dan mengurangi rasa cemas saat belajar Matematika dengan beberapa cara yang telah ditemukan, serta berusaha untuk mengontrol diri agar tidak cemas dalam belajar matematika.

 

PEMBAHASAN

Metode Pelaksanaan

Kegiatan Layanan Bimbingan Konseling yang dilakukan adalah konseling individu dengan pendekatan realita teknik WDEP (wants, direction and doing, self evaluation, planing). Layanan konseling individu pendekatan realita meyakini bahwa tindakan manusia merupakan hasil dari pilihan yang dibuatnya. Implikasi dari pilihan adalah adannya konsekuensi. Oleh karena itu, ketika individu membuat pilihan maka diharapkan dia mampu membuat pilihan yang bertanggung jawab, kemampuan untuk memilih tindakan yang akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhannya tanpa menghalangi orang lain untuk memenuhi kebutuhannya (Fall, Holden & Marquis, 2004).

Wubbolding (Nystul, 2006, Seligman, 2006) sebagai seorang juru bicara terkemuka konseling realitas mengemukakan prosedur konseling realitas dengan sistem WDEP dapat dilakukan dengan empat tahapan sebagai berikut : (1) Want (keinginan), berarti keinginan, kebutuhan, dan persepsi konseli. Konselor mengidentifikasi apa yang diinginkan konseli dalam kehidupan dengan mengajukan pertanyaan seperti ”Apa yang kamu inginkan?” (dari belajar, keluarga, guru, teman-teman, dan lain-lain). (2) Direction and doing (arahan dan tindakan) berarti apa yang dilakukan konseli dan arah yang dipilih dalam hidupnya. Pada tahap ini, konselor membantu konseli mengidentifikasi apa yang dilakukannya dalam mencapai tujuan yang diharapkan dengan mengajukan pertanyaan antara lain ”Apa yang kamu lakukan?” dan mengidentifikasi arah hidupnya dengan mengajukan pertanyaan ”Jika kamu terus menerus melakukan apa yang kamu lakukan sekarang, akan ke mana kira-kira arah hidupmu?” (3) Self Evaluation (penilaian diri) berarti melakukan evaluasi terhadap apa yang dilakukan akhir-akhir ini. Pada tahap ini, konselor membantu konseli melakukan penilaian diri untuk menentukan keefektivan apa yang dilakukan bagi pencapaian kebutuhannya. Untuk itu, konselor dapat menggunkan pertanyaan antara lain ”Apakah yang kamu lakukan akhir-akhir ini dapat membantumu memenuhi keinginanmu? (4) Planning (merencanakan) berarti membuat rencana perubahan perilaku. Pada tahap ini, konselor membantu konseli merencanakan pengubahan tingkah laku yang lebih bertanggung jawab bagi pencapaian kebutuhannya. Perencanaan dibuat berdasarkan hasil evaluasi perilaku pada tahap sebelumnya. Dalam tahap ini, konselor dapat mengajukan pertanyaan misalnya, ”Apa yang akan kamu lakukan agar dapat memenuhi keinginanmu?” Agar rencana tersebut efektif maka perencanan tindakan yang dibuat berupa rencana yang sederhana, dapat dicapai, terukur, segera, dan terkendalikan oleh konseli.

Hasil

Hasil layanan konseling individu dapat dilihat melalui Evaluasi Hasil Layanan Konseling Individu, seperti pada Gamabar berikut :

 


 

Gambar 1. Evaluasi hasil konseling individu

 

Berdasarkan evaluasi hasil konseling individu di atas, Keberhasilan yang diperoleh dalam pelaksanaan konseling individu mencapai 87,5 %. Konseli mampu memahami bahwa kecemasan dalam belajar Matematika berpengaruh pada hasil belajar. Konseli merasa senang bisa mengemukakan masalahnya dan menemukan solusi atas permasalahannya tersebut. Konseli akan merubah kebiasaan buruk dalam belajar dan mengurangi rasa cemas saat belajar Matematika dengan beberapa cara yang telah ditemukan, serta berusaha untuk mengontrol diri agar tidak cemas belajar matematika. Prosentase evaluasi hasil konseling individu dapat dilihat melalui gambar sebagai berikut :

 

 

Gambar 2. Prosentase evaluasi hasil konseling individu

 

Untuk ketercapaian dari target belum tercapai 100%, guru Bimbingan dan Konseling sebagai konselor dan peserta didik sebagai konseli bisa mengatur jadwal untuk melaksanakan konseling lanjutan agar tujuan konseling dapat tercapai dengan maksimal.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa layanan bimbingan konseling menggunakan konseling individu dengan pendekatan realita teknik WDEP terbukti dapat mengurangi kecemasan dalam belajar Matematika. Hal ini diperkuat dengan penelitian yang di lakukan Fall, Holden & Marquis (2004) Kegiatan Layanan Bimbingan Konseling yang dilakukan adalah konseling individu dengan pendekatan realita teknik WDEP (wants, direction and doing, self evaluation, planing). Layanan konseling individu pendekatan realita meyakini bahwa tindakan manusia merupakan hasil dari pilihan yang dibuatnya. Implikasi dari pilihan adalah adannya konsekuensi. Oleh karena itu, ketika individu membuat pilihan maka diharapkan dia mampu membuat pilihan yang bertanggung jawab, kemampuan untuk memilih tindakan yang akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhannya tanpa menghalangi orang lain untuk memenuhi kebutuhannya.

Dalam pelaksanaan konseling individu terdapat beberapa tantangan yang dihadapi baik secara internal maupun eksternal yang bisa mempengaruhi keberhasilan layanan yang diberikan. Beberapa faktor internal yang menjadi tantangan dari sisi konselor yaitu : (1) Kurang pengalaman konselor dalam penerapan teknik-teknik layanan konseling yang ada, sehingga perlu belajar dan berlatih kembali terkait teknik-teknik tersebut, agar lebih baik lagi dalam proses layanan yang diberikan. (2) Sedangkan dari sisi konseli yaitu konseli masih malu-malu untuk mengungkapkan masalahnya, dan belum berani mengungkapkan masalahnya secara mendalam, jadi permasalahan belum tereksplorasi dengan semestinya.

Selain itu ada beberapa factor eksternal yang bisa mempengaruhi berhasil atau tidaknya layanan yang diberikan yaitu: (1) Sarana dan prasarana. Sarana prasarana yang terbatas seperti tidak adanya ruang konseling yang memadai sehingga proses layanan yang diberikan menjadi kurang kondusif, lingkungan yang sempit, panas dan bising dapat menggangu konsentrasi saat layanan diberikan, (2) Baik dan tidaknya kerjasama dengan teman sejawat, guru mata pelajaran, dan wali kelas juga sangat berpengaruh dalam keberhasilan proses layanan yang diberikan.

 

KESIMPULAN

Layanan Bimbingan dan Konseling pada siswa yang mengalami kecemasan dalam belajar Matematika dapat dilaksanakan menggunakan konseling individu dengan pendekatan realita teknik WDEP (wants, direction and doing, self evaluation, planing). Layanan konseling individu pendekatan realita meyakini bahwa tindakan manusia merupakan hasil dari pilihan yang dibuatnya. Implikasi dari pilihan adalah adannya konsekuensi. Oleh karena itu, ketika individu membuat pilihan maka diharapkan dia mampu membuat pilihan yang bertanggung jawab, kemampuan untuk memilih tindakan yang akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhannya tanpa menghalangi orang lain untuk memenuhi kebutuhannya (Fall, Holden & Marquis, 2004). Keberhasilan yang diperoleh dalam pelaksanaan konseling individu mencapai 87,5 %. Konseli mampu memahami bahwa kecemasan dalam belajar Matematika berpengaruh pada hasil belajar. Konseli merasa senang bisa mengemukakan masalahnya dan menemukan solusi atas permasalahannya tersebut. Konseli akan merubah kebiasaan buruk dalam belajar dan mengurangi rasa cemas saat belajar Matematika dengan beberapa cara yang telah ditemukan, serta berusaha untuk mengontrol diri agar tidak cemas belajar matematika.

Untuk ketercapaian dari target belum tercapai 100%, guru Bimbingan dan Konseling sebagai konselor dan peserta didik sebagai konseli bisa mengatur jadwal untuk melaksanakan konseling lanjutan agar tujuan konseling dapat tercapai dengan maksimal.

 

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional. (2007). Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal. Bandung : UPI

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan, (2014). Buku Panduan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK).

---------- (2016). Panduan Oprasional Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Sekolah Menengah Atas (SMA): Jakarta

Marjohan. (2013). Kepatuhan Siswa terhadap Disiplin dan Upaya Guru BK dalam Meningkatkanya melalui Layanan Informasi. Jurnal Ilmiah Konseling, Volume 2, No 1, Januari 2013 (220-224).

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 111. (2014). Pedoman Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Menengah.

Roestiyah. (2001). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta

Edwindha Prafitra Nugraheni. (2022). Pendalaman Materi Bimbingan dan Konseling. Modul. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Ristek, dan Teknologi

Syamsu Yusuf. (2017). Bimbingan & Konseling Perkembangan. Bandung: Refika Aditama.

Yeni Karneli &Suko Budiono. (2018). Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling. Bogor: Graha Cipta Media.